Oleh : Yohanes Krismantyo Susanta
Juara 1 Sayembara Karya Tulis The Legend of Pongtiku II
Pendahuluan: Menyapa Tanah Leluhur
Saya pertama kali menginjakkan kaki di Toraja, tepatnya di Tana Toraja pada pertengahan tahun 2015 atau nyaris sekitar satu dekade silam— sebuah perjalanan yang awalnya saya kira biasa saja, namun ternyata mengubah cara saya memandang tanah air. Toraja menyambut saya bukan hanya dengan pemandangan alam yang memesona, tetapi dengan nafas budaya yang begitu kuat terasa. Langit yang dibelah tebing, awan yang menggelayut di atas lembah Lolai, dan deretan makam batu di Lemo seakan menuturkan kisah yang lebih tua dari bangsa ini sendiri.

Di pagi hari, Batutumonga tampak seperti lukisan hidup—sawah berundak memantulkan cahaya lembut matahari yang naik perlahan, sementara kabut menari pelan di antara pepohonan. Lalu ada Tongkonan: rumah adat yang bukan sekadar bangunan, melainkan representasi dari struktur sosial, spiritualitas, dan hubungan yang erat antara manusia, leluhur, dan semesta. Dalam sunyi pemakaman dan megahnya ukiran kayu, saya menemukan sesuatu yang hilang dari banyak tempat lain: rasa hormat kepada hidup dan mati yang dihayati dalam ritual sehari-hari.
Namun keindahan itu tak berdiri sendiri. Ada juga sisi yang mengusik hati: jalanan yang rusak, jalan tikus yang membahayakan wisatawan, dan tumpukan sampah plastik yang menyelinap di sela-sela pohon dan batu purba. Ironi ini tak bisa diabaikan begitu saja. Toraja yang menjunjung tinggi harmoni dengan alam justru dipaksa menghadapi realitas modern yang abai dan ceroboh. Saya menyadari, kekaguman saja tidak cukup. Warisan seperti ini hanya akan bertahan jika kita tidak hanya mengunjunginya, tetapi juga ikut menjaganya.
Esai ini lahir dari refleksi tersebut—sebuah ajakan untuk melihat Toraja bukan hanya sebagai tempat eksotis, tetapi sebagai cermin: tentang siapa kita, dan seperti apa kita hendak merawat warisan budaya dan identitas bangsa ini di tengah arus zaman yang terus berubah.
Budaya sebagai Jantung Identitas
Toraja menyambut siapapun yang datang ke sana dengan keindahan budaya dan panorama yang seakan berhenti dalam waktu. Dari Tongkonan yang berdiri megah sebagai lambang struktur sosial dan spiritualitas, hingga kompleks pemakaman batu Lemo yang mengesankan. Lolai, yang dijuluki Negeri di Atas Awan, menawarkan pemandangan lautan kabut saat fajar; sementara Batutumonga memperlihatkan hamparan sawah berundak yang tenang dan mistis. Semuanya adalah bagian dari narasi budaya yang hidup, bukan hanya lanskap mati untuk foto wisata.
Toraja bukan sekadar destinasi wisata; ia adalah cermin dari identitas dan filosofi hidup masyarakatnya. Tongkonan, rumah adat Toraja, bukan hanya tempat tinggal, tetapi simbol hubungan spiritual antara manusia, alam, dan leluhur. Dalam sistem kepercayaan Aluk To Dolo, setiap aspek kehidupan terhubung dengan kosmos dan ketertiban sosial yang diwariskan dari generasi ke generasi.[1]
Ritual seperti Rambu Solo’, upacara kematian yang bisa berlangsung berhari-hari, serta Ma’nene, tradisi membersihkan jenazah leluhur, adalah bukti penghormatan luar biasa terhadap kehidupan dan kematian. Namun, di tengah globalisasi, ritual-ritual ini mulai tergeser fungsinya: dari spiritualitas menjadi tontonan. Ada yang menyebutnya bentuk adaptasi, tapi bagi saya, ini seharusnya menjadi panggilan untuk menjaga makna agar tak hilang digerus oleh arus zaman.
Pariwisata dan Tantangan Infrastruktur
Pariwisata Toraja memang menggeliat, apalagi sejak ditetapkan sebagai Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN).[2] Namun geliat ini tidak diiringi dengan kesiapan dan perbaikan infrastruktur. Jalan menuju destinasi populer seperti Lemo, Buntu Burake, Ke’te’ Kesu dan lainnya masih banyak yang berlubang, sempit, dan membahayakan wisatawan. Berdasarkan kajian geometrik jalan, banyak ruas memiliki kemiringan berlebih, radius tikungan tajam, dan kurangnya marka yang memadai, meningkatkan risiko kecelakaan.[3]
Belum lagi masalah kebersihan. Sampah plastik sering ditemukan berserakan di sekitar area wisata. Ironisnya, Toraja yang kaya akan filosofi keselarasan dengan alam (sangserekan) justru belum mampu menjaga kebersihan lingkungannya. Ini bukan hanya mencederai estetika, tapi juga menunjukkan bahwa pengelolaan pariwisata belum menyatu dengan nilai-nilai budaya lokal. Ketimpangan ini mengganggu: budaya yang agung namun dikepung oleh kelalaian perawatan. Warisan leluhur ini perlu bukan hanya untuk dikenang, tapi dirawat dan dihidupkan kembali dalam semangat zaman ini.
Nasionalisme Gaya Baru: Merawat Lewat Aksi Nyata
Nasionalisme bukan lagi tentang slogan, upacara atau hafal lagu kebangsaan, tetapi bagaimana kita bertindak menjaga jati diri bangsa. Di Toraja, saya melihat harapan muncul dalam bentuk nasionalisme baru yang tumbuh dari komunitas muda Toraja yang menggelar aksi bersih-bersih kawasan situs budaya, mengedukasi wisatawan, hingga membuat konten digital guna memperkenalkan sejumlah tradisi misalnya filosofi di balik Rambu Solo’ dan Ma’nene. Semangat ini adalah bentuk cinta pada tanah air yang nyata dan relevan di era modern.
Beberapa inisiatif mulai menunjukkan arah baru. Misalnya, model eco-tourism berbasis edukasi di mana wisatawan dilibatkan langsung dalam menjaga kebersihan, menanam pohon, hingga belajar membedakan antara ritual yang sakral dan yang bersifat wisata. Generasi muda juga mengembangkan dokumentasi budaya secara etis di media sosial—tidak sekadar viral, tapi juga sarat makna dan informasi.[4]
Digitalisasi bukan ancaman jika dikelola dengan bijaksana. Dengan pendekatan etnografis, media sosial bahkan bisa menjadi alat refleksi dan promosi budaya lokal yang dimaknai kembali oleh pelaku budayanya sendiri. Dalam semangat ini, generasi muda menjadi lebih dari sekadar pewaris—mereka menjadi penjaga tanah kelahiran dan juru bicara warisan yang tak tergantikan.
Singkat kata, kita bisa mengembangkan model wisata budaya yang berbasis komunitas, di mana pengunjung bukan sekadar penonton, tapi peserta aktif dalam pelestarian. Kita juga bisa membangun kolaborasi antara akademisi, pelaku pariwisata, dan pemerintah daerah untuk menghasilkan strategi yang berkelanjutan. Karena menjaga budaya bukan tanggung jawab masa lalu, tapi tugas generasi masa kini.
Penutup: Harapan dari Tanah Leluhur
Toraja mengajarkan saya bahwa budaya adalah salah satu akar dari nasionalisme. Toraja mengajarkan saya bahwa budaya bukanlah museum masa lalu, tetapi nafas yang harus dijaga bersama. Dari Tongkonan, saya belajar arti rumah dan relasi sosial. Dari Rambu Solo’, saya belajar menghormati kehidupan dan kematian. Namun, dari jalanan rusak dan sampah yang tercecer itu, saya juga belajar bahwa cinta pada budaya tak bisa berhenti pada rasa kagum— ia harus senantiasa dipelihara, dijaga, dan dirawat.
Toraja tak hanya butuh wisatawan yang datang, tetapi jiwa-jiwa yang pulang membawa cinta untuk negeri ini. Mari kita jaga Toraja, bukan karena ia eksotik di mata dunia, tetapi karena di sanalah kita belajar bagaimana hidup dijalani dengan penuh hormat—kepada leluhur, kepada alam, dan kepada masa depan. Saya percaya, jika kita bisa melihat Toraja bukan hanya sebagai objek wisata, tetapi sebagai warisan jiwa bangsa, maka nasionalisme akan tumbuh bukan dari seruan, tetapi dari kesadaran. Kesadaran bahwa mencintai Indonesia, bisa dimulai dari menjaga tempat kecil bernama Toraja.
Biografi Singkat
Yohanes Krismantyo Susanta adalah dosen tetap di Institut Agama Kristen Negeri Toraja dan pernah menjadi dosen tamu di Fakultas Teologi UKI Toraja (2018-2023). Saat ini ia sedang menempuh studi doktoral di Sekolah Tinggi Filsafat Teologi Jakarta.
[1] Hetty Nooy-Palm, The Sa’dan-Toraja (Dordrecht: Springer Netherlands, 1979), http://link.springer.com/10.1007/978-94-017-7150-4.
[2] Admin SulselProv, “Toraja Segera Masuk Kawasan Strategis Pariwisata Nasional,” last modified 2017, accessed June 2, 2025, https://sulselprov.go.id/post/toraja-segera-masuk-kawasan-strategis-pariwisata-nasional.
[3] Andi Patiroi, “Kajian Aspek Keselamatan Jalan Terhadap Jalan Daerah Kabupaten Tana Toraja Untuk Mendukung Kegiatan Ekonomi Dan Pariwisata,” Jurnal Keselamatan Transportasi Jalan (Indonesian Journal of Road Safety) 9, no. 1 (June 1, 2022): 40–51, https://ktj.pktj.ac.id/ktj/article/view/429.
[4] Rivi Handayani, Heddy Shri Ahimsa-Putra, and Christian Budiman, “Digitalisasi Ideologi: Mediatisasi Hegemoni Ritual Rambu Solo Di Media Sosial,” Communicatus: Jurnal Ilmu komunikasi 4, no. 1 (June 14, 2020): 1–24, https://journal.uinsgd.ac.id/index.php/cjik/article/view/8493.









